Dalam perkembangan intelektual ulama Melayu khususnya di era abad 18 M, peran dan kiprah Syeikh Abdus Samad Al-Palimbani tak bisa dianggap kecil. Syeikh Al-Palimbani, demikian biasa ia disebut banyak kalangan, merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara. Ketokohannya melengkapi nama-nama ulama dan intelektual berpengaruh seangkatannya semisal Al-Raniri, Al-Banjari, Hamzah Fansuri, Yusuf Al-Maqassari, dan masih banyak lainnya.

Riwayat Abdus Samad Al-Palimbani

Al-Palembani yang mempunyai nama lengkap Abdul Al-Şamad b. Abdullah Al-Jawi Al-Palimbani merupakan ulama yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di wilayah Nusantara. Ia kemungkinan besar berasal dari keturunan campuran Arab dan Palembang. Ayahnya yang bernama Syaikh Abdul Jalil bin Syaikh Abdul Wahid bin Syaikh Ahmad Al-Mahdani merupakan seorang yang berasal dari Yaman.

Luzmy Ningsih mengutip Abdullah “ Al Mahdani merupakan guru agama di Palembang yang di temui oleh Tengku Muhammad Jiwa (putra mahkota Keddah) dalam pengembaraanya. Kemudian Al Mahdani ikut mengembara ke India sampai ke Keddah.

Sebelum menetap di Palembang, Syeikh Abdul Jalil telah menikah dengan wan Zainab Putri Dato Sri Maharaja Dewa. Ia mempunyai dikarunai dua orang anak yang bernama Wan Abdu Qadir dan Wan Abdullah. Tetapi Al-Palimbani lebih tua dari mereka berdua, karena kedua saudaranya tersebut lahir setelah Syeikh Abdul Jalil pulang dari tiga tahun kepergiannya ke Palembang, dimana ia kawin lagi dan mendapat seorang putra yang bernama Al-Palimbani itu.

Berdasarkan Tarikh Silsilah Negeri Keddah, Al-Palimbani lahir sekitar tahun 1704 M di Palembang. Mengenai asal keturunanya masih terjadi perselisihan terhadap silsilah keturunan Al-Palimbani. Dari berbagai sumber-sumber yang membahas Al-Palimbānī seperti karya Chatib Quzwain juga kesulitan dalam melacak silsilah keturunan Al-Palimbani.

Chatib menyimpulkan bahwa Al-Palimb lahir danii Palembang sekitar empat tahun setelah 1112 H/1700  M dan meninggal tidak lama setelah tahun 1203 H/1788 M. Al-Palimbānī meninggal dalam suatu peperangan anatara Kesultanan Keddah dengan Kerajaan Siam, tetapi bukan yang dikatakan pada tahun 1244 H/1828 M itu. Dalam dirinya mungkin mengandung darah keturanan Arab yang sulit untuk ditelusuri silsilah keturunannya.

Pendidikan Abdus Samad Al-Palimbani

Al-Palimbani merupakan ulama sufi yang mempunyai kecerdasan intelektual yang sangat tinggi. Melalui ilmunya yang sangat tinggi ia berhasil menciptakan beberapa karya yang memberi manfaat bagi perkembangan Islam di wilayah Nusantara pada saat itu.

Pendidikan awalnya diperolehnya di Keddah dan Patani, Muangthai. Lalu, sang ayah mengirimkannya ke Arabia, entah di usia berapa. Yang jelas ia menetap disana sampai wafatnya. Diperkirakan setelah 1789, tahun ketika ia menyelesaikan karya terakhirnya siyar As salikin. Meski tak pernah pulang, Abdush Shamad tetap mengikuti perkembangan di Nusantara lewat keterlibatannya dalam komunitas Jawi.

Ayahnya beliau, Syekh Abdul Jalil tidak lama tinggal di Palembang dan ia kembali ke Negeri Keddah, sebab beliau masih menjabar mufti disana dan meneruskan dakwahnya. Putera tunggalnya yang bernama Abdush Samad beliau bawa pula ke Negeri Keddah. Di Keddah Syekh Abdul Jalil mendidik sendiri semua puteranya. Mereka di didik atas dasar-dasar Ilmu Keislaman menurut metode pada saat itu. Kemudian Syekh Abdul Jalil mengirim semua anaknya untuk belajar ke Pondok di Negeri Pattani, karena pada masa itu negeri Pattani adalah tempat mengkaji ilmu-ilmu keislaman sistem pondok yang mendalam.

Sistem yang diterapkan pada masa itu adalah sistem hafalan, yang dimulai dengan menghafal dasar-dasar ilmu Bahasa Arab, yaitu nahwu dan sharaf, kemudian dilanjutkan dengan ilmu Bahasa Arab lainnya yang lebih dikenal dengan Ilmu Alat Dua Belas. Kemudian dilanjutkan lagi dengan menghafal ilmu dasar-dasar ilmu syariat dalam mazhab Imam Syafi’i, dibidang ilmu tauhid dengan menghafal dasar-dasar ilmu tauhid berdasarkan mazhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang bersumber dari Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari. sangatlah disayangkan tidak terdapat nama-nama guru Abdush Samad selama beliau belajar menuntut ilmu di daerah Pattani.

Lebih kurang tiga puluh tahun Abdush Samad dengan kawan-kawannya belajar di Makkah. Di Makkah Abdush Samad belajar berbagai ilmu agama bersama kawan-kawannya yang terkenal antara lain adalah: Muhammad Arsyad Bin Abdullah Al-Banjari, Abdul Wahab Pangkajene (Sindereng Daeng Bunga) Bugis, Abdurrahman Al-Masri dan Daud Bin Abdullah Al-Fathani.

Karya – Karya Abdus Samad Al-Palimbani

Meskipun informasi mengenai kehidupan Al-Palimbānī demikian langka, karya-karyanya cukup menjadi saksi bagi orientasi sufistiknya. Dalam sejarahnya, ‘Abd Al-Mun’im Al-Damanhuri mempunyai andil besar dalam dunia karya dan aktualisasi pemikiran Al-Palimbānī. Pasalnya, berdasarkan catatan-catatan yang dibuat ketika mengikuti kuliah-kuliahnya ia berhasil menulis karyanya yang pertama Zuhrat al-Murid fi Bayan Kalimat Tauhid. Sebuah karya dan sumbangan bagi perkembangan keilmuan Nusantara dalam bidang logika (manthiq) dan teologi (ushuluddīn). 52 Apabila Ahl Al-Sunnah wa Al-Jāma’ah dan tasawuf Sunni kemudian berhasil memantapkan kedudukan dan pengaruhnya di Nusantara, tokoh yang menjadi faktor penentu dalam keberhasilan tersebut adalah Al-Palimbani.

Menurut Chatib yang mengutip dari Drewes mengatakan bahwa, karya tulis Al-Palimbānī berjumlah tujuh buah; dua sudah dicetak, empat buah masih berbentuk naskah dan sebuah baru dikenal namanya saja. Chatib juga menjelaskan Al-Palimbani juga menyebutkan pula sebuah tulisan yang lain, sehingga semua karya tulisnya berjumlah delapan buah seperti berikut :

  1. Zuhrah Al-Murīd fī Bayān Kalimah Al-Tauḥīd. 1178 H/1764 M. (Berbahasa Melayu)
  2. Naşīhah al-Muslimīn wa Tadzkirah al-Mu’minīn fi Faḑāil al-Jīhād fī Sabīlillah wa Karāmah al-Mujāhidīn fī Sabīlillah. 1186 H/1772 M. (Berbahasa Arab)
  3. Tuḥfah al-Rāghibīn fī Bayān Ḩaqīqah Īmān al-Mu’minīn wa mā Yufsiduh fī Riddah al-Murtaddīn.  1188 H/1774 M. (Berbahasa Melayu)
  4. Al-‘Urwah Al-Wustqā wa Silsialh ulī Al-Tuqā. (Berbahasa Arab dan belum ditemukan)
  5. Hidāyah Al-Sālikīn fī Sulȗk Maslak Al-Muttaqīn 1192 H/1778 M. (Berbahasa Melayu)
  6. Rātib ‘Abd Al-Şamad.  (Berbahasa Arab)
  7. Syar Al-Sālikīn ilā Rabb Al-Alamīn. 1203 H/1788 M. (Berbahasa Arab)