KH. Abdul Halim merupakan tokoh ulama dan tokoh pergerakan kemerdekaan, mungkin namanya kurang dikenal masyarakat luas, tidak seperti tokoh  seangkatannya, diantaranya KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), namun hasil perjuangannya masih dapat kita saksikan sampai dengan hari ini, baik dalam bidang Politik, Ekonomi dan Pendidikan.

KH. Abdul Halim adalah salah seorang ulama besar yang hidup pada abad ke-20. Beliau termasuk salah seorang tokoh pergerakan nasional, organisatoris, prinsipil (dalam akidah) tetapi luwes dalam mengejawantahkan nilai-nilai luhur Islam, dan terkenal tokoh yang toleran apalagi dalam menghadapi perbedaan pendapat antarulama tardisional dan pembaharu.

Abdul Halim dilahirkan tanggal 4 Syawal 1304 H (26 Juni 1887) di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Ayahnya, KH. Muhammad Iskandar, dari Banten yang menjadi Penghulu di Jatiwangi, kemudian mempersunting gadis setempat, Siti Mutmainah, yang kemudian dikaruniai tujuh anak dengan Abdul Halim sebagai anak bungsu.

Masa Kecil KH. Abdul Halim 

Lahir di Kabupaten Majalangka, tepatnya di desa Sutawangi, Kecamatan Jatiwangi, dengan nama kecil Otong Syatori, pada tanggal 26 Juni 1887. Dalam sumber lain disebutkan bahwa nama lain Abdul Halim adalah Muhammad Sjatari. Ayah Abdul Halim bernama KH. Muhammad Iskandar, kalau dilihat dari silsilah masih keturunan Maulana Hasanudin, anak Sunan Gunung Jati, yang merupakan penguasa Kesultanan Banten.

KH. Muhammad Iskandar selain sebagai mengasuh  pesantren, juga menjabat sebagai penghulu di Kawedanan Jatiwangi. Sedangkan ibunya benama Hj. Siti Mutmainah,  adalah anak dari KH. Imam Safari yang juga masih keturunan Sunan Gunung Jati. Namun, ada juga yang menyebut Siti Mutmainah merupakan keturunan Pangeran Sabranglor dari Kesultanan Demak.

Abdul Halim merupakan anak bungsu dari delapan  bersaudara, ketujuh kakaknya adalah : Iloh Mardiyah, Empon Kobtiyah, E Sodariyah, Jubaedi, Iping Maesaroh, Hidayat, dan Siti Sa’diyah.

Abdul Halim hidup di dalam keluarga yang  memiliki tradisi keagamaan yang sangat kuat, pendidikan dasar agama diberikan oleh ayah dan ibunya sebagai dasar sebelum memasuki usia sekolah. Setelah ayahnya wafat, yang saat itu Abdul Halim masih kecil, maka ibunya tetap meneruskan  pendidikan agama kepadanya. Dengan dasar pendidikan yang diberikan oleh ayah dan ibunya, menjadikan Abdul Halim  menjadi anak yang gemar belajar, ilmu – ilmu tentang agama dan kemasyarakatan adalah bacaan yang sangat disukainya.

Lebih Memilih Pondok Pesantren

Pada usia 9 tahun tepatnya tahun 1896, keluarga Abdul Halim pindah ke kampung Cideres, Desa Dawuan, Kecamatan Dawuan. Di tempat baru, proses belajar semakin meningkat, Abdul Halim belajar belajar membaca Al Qur’an setiap selesai menunaikan shalat lima waktu. Abdul Halim dalam menuntut ilmu tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bangku sekolah, orang tuanya lebih memilih pendidikan di pesantren, karena pesantren dianggap lebih baik dari pada sekolah yang didirikan oleh Hindia Belanda, terlebih di sekolah pada saat itu tidak diajarkan pelajaran agama Islam.

Di usianya ke 10 (1897) Abdul Halim memulai pendidikannya di pesantren, pesantren Ranji Wetan di Jatiwangi, Majalengka merupakan pesantren yang pertama menjadi tempat belajarnya dan dia belajar ilmu keislaman kepada KH Anwar. Disini Abdul Halim belajar sekitar 1 tahun lamanya. Untuk memperdalam ilmu  Al Qur’annya pada tahun 1898, Abdul Halim masuk ke pesantren Lontangjaya, berlokasi masih di sekitara Majalengka, tepatnya di Desa Panjalin, Kecamatan Leuwimunding yang pada saat itu di asuh oleh KH. Abdullah.

Disini dia belajar Qira’at dan Tajwid. Setelah kurang lebih satu setengah tahun, KH. Abdullah menyuruh Abdul Halim untuk mempelajari kesusateraan arab kepada KH. Suja’I di pesantren Bobos yang beralamat di kecamatan Sumber Cirebon. Dan pada beberapa bulan kemudian Abdul Halim belajar ilmu Fiqh kepada KH. Ahmad Sobari,

di Pondok Pesantren Ciwedus, Cilimus, Kuningan. Selama nyantri di Pesantren Ciwedus, Abdul Halim sempat menuntut ilmu kepada KH. Agus dari Pesantren Kanayangan, Jawa Tengah. Setelah dianggap tamat Abdul Halim pun  disuruh kembali ke Pesantren Ciwedus untuk meneruskan pendidikannya.

Jiwa Kewirausahaan Abdul Halim

Selama menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren satu hal yang menonjol dari sosok Abdul Halim ini, yaitu  kecerdasan dan kemampuan menyerap ilmu yang melebihi teman-temannya saat itu. Juga ada hal yang cukup menonjol dari diri Abdul Halim, yaitu jiwa kemandirian dan kewirausahaan, sehingga Abdul Halim selalu mampu menyelesaikan berbagai rintangan yang dihadapi.

Dagang merupakan keahlian  yang dimiliki Abdul Halim, selama pesantren di luar majalengka ia  berdagang kebutuhan para santri di pesantren seperti kecap, sarung, kain batik, minyak wangi juga kitab – kitab yang di bawa ketika berkesempatan pulang dari Majalengka. Keuntungan dari berdagang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya dan sebagian dikirimkan kepada orang tuanya.

Pernikahan Dengan Siti Murbiyah

Menjelang usia 21 tahun (tahun 1907) Abdul Halim yang kala itu masih berstatus santri di kuningan, dipanggil pulang oleh orang tuanya untuk dijodohkan dengan Siti Murbiyah.  Siti Murbiyah adalah putri KH. Muhammad Ilyas bin Hasan Basyari, saat itu menjabat sebagai Penghulu di Majalengka. Abdul Halim dikaruniai tujuh anak yaitu :

  1. Moh. Toha A. Halim
  2. Siti Fatimah
  3. Siti Mahriyah
  4. Abdul Aziz Halim
  5. Siti Halimah Halim
  6. Abdul Karim Halim
  7. Toto Taufik Halim

Mekkah dan Toleransi Abdul Halim

Pada usia 22 tahun, ia berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sambil memperdalam ilmu agama, antara lain pada Syaikh Ahmad Khatib dan Syaikh Ahmad Khayyat. Meski pun selama tiga tahun bermukim di sana, ia juga membaca tulisan-tulisan Jamaluddin Al-Afghani dan muridnya, Syaikh Muhammad Abduh, yang besar pengaruhnya terhadap murid-murid dari Indonesia seperti K.H. A. Dahlan, Agus Salim dll. yang kemudian menjadi pembaru di tanah air, namun Halim tampaknya tidak terpengaruh. Ia tetap sebagai ahlussunnah wal jama’ah dan berpegang pada madzhab Syafi’I dalam hal fikih.

Di Mekkah, ia mulai bersentuhan dengan tulisan-tulisan Jamaluddin al-Afgani dan Muhammad Abduh. Di sana, ia berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib, imam dan khatib Masjidil Haram, dan Syeikh Ahmad Khayyat. Di Mekkah pula, ia bertemu dengan KH. Mas Mansyur dari Surabaya (tokoh Muhammadiyah) dan KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh Nahdatul Ulama). Setelah dirasa memadai, Abdul Halim kembali ke Tanah Air  pada 1911 M.

Pulang ke Tanah Air

Saat kembali ke tanah air, pada tahun 1328 H./1911 M., Halim menolak tawaran mertuanya, K.H. Muhammad Ilyas, Penghulu Besar (Hoofd Penghoeloe Landraad) Kabupaten Majalengka, untuk menjadi pejabat di lingkungan priyayi. Halim yang merasa bukan berasal dari lingkungan priyayi, hendak membuktikan bahwa dengan tidak menjadi priyayi orang bisa berbakti kepada masyarakat. Tidak mustahil, sikap ini dipengaruhi gurunya, Syaikh Ahmad Khatib, yang juga tidak mau bekerja dalam sistem kolonial dan memilih terus mukim di Mekah.

Sifat ini, sudah terlihat waktu di pesantren. Karena sejak masih belajar di pesantren, Halim sudah biasa mandiri dengan berjualan macam-macam barang keperluan sehari-hari dan selama di Mekah ia sempat belajar bahasa Cina dari orang Cina Muslim, maka ia pun mulai melaksanakan cita-citanya untuk memperbaiki nasib umat Islam. Yang dipilihnya adalah bidang pendidikan, mula-mula dalam bidang agama. Selain bahasa Arab dan Cina, ia juga mempelajari bahasa Belanda dari Van Houven (salah seorang dari Zending Kristen di Cideres).

Dengan berbekal semangat juang dan tekat yang kuat, sekembalinya dari Mekah, ia mulai melakukan perbaikan untuk mengangkat derajat masyarakat, sesuai pengamatan dan hasil konsultasinya dengan beberapa tokoh di Jawa. Usaha perbaikan ini ditempuhnya melalui jalur pendidikan (at-tarbiyah) dan penataan ekonomi (al-iqtisadiyah).

Dalam merealisasikan cita-citanya, untuk pertamakalinya Abdul Halim mendirikan Majelis Ilmu (1911) sebagai tempat pendidikan agama dalam bentuk yang sangat sederhana pada sebuah surau yangg terbuat dari bambu. Pada majelis ini ia memberikan pengetahuan agama kepada para sntrinya. Kemudia dengan bantuan mertuanya, ia dapat mendirikan bangunan sederhana yang dijadikan sebagai kelas untuk mengajar, dilengkapi dengan asrama untuk tempat tinggal para santri. Meski pun ia sendiri belajar lama di pesantren secara halaqah, namun sebagai pengaruh apa yang dilihatnya sedang berkembang di Mekah, maka ia mempergunakan sistem kelas. Meski pun pada awalnya, sistem ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat, namun dengan kian mundurnya pesantren-pesantren lama, akhirnya dapat juga diterima masyarakat.

Berdirinya Hayatul Qulub

Tahun 1912, ia mendirikan Hayatul Qulub. Lembaga itu bertujuan untuk mengembangkan ide pembaruan pendidikan, pengembangan sosial ekonomi dan kemasyarakatan. Anggotanya terdiri dari tokoh masyarakat, santri, pedagang, dan petani.

Langkah-langkah perbaikannya meliputi delapan bidang yang disebut dengan Islah as-Samaniyah: islah al-aqidah (perbaikan bidang aqidah), islah al-ibadah (perbaikan bidang ibadah), islah at-tarbiyah (perbaikan bidang pendidikan), islah al-ailah (perbaikan bidang keluarga), islah al-adah (perbaikan bidang kebiasaan), islah al-mujtama (perbaikan masyarakat), islah al-iqtisad (perbaikan bidang perekonomian), dan islah al-ummah (perbaikan bidang hubungan umat dan tolong-menolong).

Organisasi itu terus berkembang. Keberadaannya dapat memperbaiki keadaan masyarakat kecil. Itu membuat pemerintah kolonial Belanda mulai menaruh curiga. Secara diam-diam pemerintah mengutus polisi rahasia (Politiek Inlichtingn Dienst/PID) untuk mengawasi Abdul Halim dan organisasinya.

Tahun 1915,  Hayatul Qulub dibubarkan. Penjajah Belanda menganggap organisasi tersebut menjadi penyebab terjadinya beberapa kerusuhan (terutama antara pribumi dan China). Meski dibubarkan, kegiatannya tetap berjalan.

Pada 16 Mei 1916, Abdul Halim mendirikan Jam’iyah I’anah al-Muta’alimin. Itu dilakukan sebagai  upaya untuk terus mengembangkan pendidikan. Ia bekerjasama dengan Jam’iyat Khair dan al-Irsyad di Jakarta. Tapi organisasi itu dibubarkan pemerintah kolonial pada 1917. Pemerintah Belanda khawatir, organisasi itu dapat merongrong kewibawaan mereka.

Abdul Halim tak jera. Pada tahun itu juga, ia mendirikan Persyarikatan Ulama. HOS. Tjokroaminoto  berperan besar terhadap pendiriannya. Organisasi itu diakui oleh pemerintahan kolonial Belanda pada 21 Desember 1917. Persyarikatan Ulama terus berkembang. Pada 1924, daerah operasi organisasi sampai ke seluruh Jawa dan Madura. Tahun 1937, menyebar ke seluruh Indonesia.

Seiring berkembangnya Jam’iyat I’anat Al-Muta’allimin,  H. Abdul Halim memandang perlu untuk mendapatkan pengakuan secara hukum dari pemerintahan Hindia Belanda, untuk memuluskan keinginan tersebut maka pada pertengan tahun 1917 nama Jam’iyat I’anat Al-Muta’allimin dirubah menjadi Persjarikatan Oelama (PO). Perubahan nama tersebut mendapat dukungan penuh dari HOS Tjokroaminoto, dan akhirnya ikut  membantu untuk mendapatkan  pengakuan hukum dari pemerintahan Hidia Belanda.

Pada tanggal 21 Desember 1917, Pemerintahan Hidia Belanda melalui Gubernur Jenderal J. P. Graaf van Limburg Stirum mengesahkan dan mengakui keberadaan organisasi Persjarikatan Oelama (PO) dengan surat no 43.

Kiprah KH. Abdul Halim dalam Perjuangan di tingkat Nasional.

Selain aktif sebagai pimpinan Persjarikatan Oelama (PO) yang  dibentuknya, beliau pun aktif di Serikat Islam ( SI), yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto. Bahkan H. Abdul Halim ditunjuk menjadi pimpinan SI Afdeling Majalengka. Semasa aktif di SI, H. Abdul Halim pernah ditangkap oleh pihak Belanda atas tuduhan terlibat dalam aksi pemogokan di daerah Jatiwangi. Namun setelah di intrograsi beliau  kembali dibebaskan.

Pada 1928, ia diangkat menjadi  pengurus Majelis Ulama yang didirikan Sarekat Islam bersama K.H. M. Anwaruddin dari Rembang dan K.H. Abdullah Siradj dari Yogyakarta. Ia juga menjadi anggota pengurus MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) yang didirikan pada 1937 di Surabaya. Setelah MIAI berganti menjadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) pada 1943, beliau menjadi salah seorang pengurusnya.

Dalam pengawasan yang sangat ketat dari pihak Belanda, paska penangkapan, tidak henti untuk terus mengobarkan semangat perjuangan. Di CSI ( central Serikat Islam ) hasil penggabungan  seluruh cabang SI, H. Abdul Halim  diangkat sebagai Commisaris Bestuur CSI Hindia Timur untuk wilayah Jawa Barat.

Namun dengan posisi tersebut, aktifis H. Abdul Halim tetap lebih terkonsentrasi di Organisasi yang  dipimpinnya yaitu PO. Dengan  perkembangan yang begitu pesat,  H. Abdul Halim mengusulkan kepada pemerintah Hindia Belanda, melalui Gubernur Jenderal D. Fock, supaya wilayah kerja Persjarikatan Oelama di perluas sampai ke seluruh pulau Jawa dan Madura.

Dan pada tanggal 19 Januari 1924, permohonan tersebut dikabulkan pemerintahan Hindia Belanda. Permohonan dikabulkan karena Persjarikatan Oelama merupakan  organisasi pendidikan bukan organisasi politik. Yang pada masa itu organisasi politik sedang dalam pengawasan yang sangat ketat dari pihak penjajah Belanda.

Sejak itu aktifitas Persjarikatan Oelama menjadi semakin luas, hingga keseluruh pulau Jawa dan Madura, dan pada tahun 1931 Persjarikatan Oelama telah mendirikan cabang salahsatunya di Tegal, Jawa Tengah.

Pada tahun 1937 H. Abdul Halim beserta R. Moh. Kelan kembali mengajukan perluasan aktifitas Persjarikatan Oelama yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Permohonan tersebut di kabulkan dengan  ditandatanganinya Rechtspersoon No. 43 Tanggal 18 Agustus 1937 oleh J. M. Kiverson se-bagai Algemeene Secretaris. Maka dengan demikian aktifitas Persjarikatan Oelama semakin luas, salahsatunya dengan mendirikan cabang di Sumatera Selatan.

Organisasi Sayap Persjarikatan Oelama

Selain mendirikan cabang Persjarikatan Oelama sebanyak- banyaknya di seluruh Indonesia,

H. Abdul Halim pun mendirikan  organisasi — organisasi sebagai  underbouw-nya Persjarikatan Oelama, diantaranya :

1. Hizbul Islam Padvinders Organisatie (HIPO) tahun 1929, adalah organisasi kepanduan sebagai wadah untuk menyalurkan aktifitas para pemuda.

2. Fatimiyah pada tahun 1930.

3. Perikatan Pemoeda Islam (PPI) tahun 1932

4. Perhimpoenan Pemoeda Persjarikatan Oelama Indonesia (P3OI).

5. Perhimpoenan Anak Perempoean Persjarikatan Oelama.

Di bidang pendidikan H. Abdul Halim melalui Persjarikatan Oelama mendirikan lembaga — lembaga pendidkan salah satunya adalah pada tahun 1919 mendirikan Madrasah Mu’allimin (Darul Ulum) , Madrasah ini berorentasi untuk melahirkan para guru, untuk itu sekolah ini hanya menerima murid kelas VII Madrasah Tholibin dan para santri yang sudah menuntaskan pendidikannya di pesantren.

Selain itu H. Abdul Halim mendirikan lembaga pendidikan yang diberi nama Santi Asromo pada tahun 1932. Dalam lembaga pendidikan ini, para murid tidak hanya dibekali dengan  pengetahuan agama dan pengetahuan umum, tetapi juga dengan keterampilan sesuai dengan bakat anak didik, antara lain pertanian, pertukangan, dan  kerajinan tangan. Untuk memecahkan permasalah ekonomi H. Abdul Halim melahirkan sebuah ide yang dikenal dengan konsep Ishlah al-Iqtishad, yang selanjutnya dikenal dengan naka koperasi.

Untuk menyebarluaskan ide dan gagasannya H. Abdul Halim melalui  Persjarikatan Oelama pada tahun 1928 menerbitkan majalah Soeara Persjarikatan Oelama (SPO) dan  selanjutnya dari tahun 1930 sampai tahun 1941, menerbitkan beberapa majalah dan brosur sebagai media penyebaran ide dan gagasannya, seperti:

1. Soeara Islam, As-Sjoero,

2. Pengetaoean Islam

3. Miftahus-Saadah

4. Berita PO,

5. Al Mu’allimin

6. Pemoeda

7. Penunjuk Jalan Kebenaran

Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang (1942) Persjarikatan Oelama dibekukan. Namun kegiatan pendidikan dan  pengajian masih tetap dilakukan oleh H. Abdul Halim. Memasuki tahun 1943 H. Abdul Halim masuk menjadi anggota Chuo Sangi In bentukan Jepang, yang bertugas mengajukan usulan kepada pemerintahan dan menjawab  pertanyaan pemerintah mengenai soal– soal politik dan menyarankan tindakan yang harus dilakukan Jepang.

Semasa menjadi anggota Chuo Sangi In, H. Abdul Halim, M. Asyikin Hidayat dan K. H. Ahmad Ambari, mengajukan permohonan untuk mengaktifkan  kembali Persjarikatan Oelama, dan pada tanggal 1 Februari 1944 permohonan dikabulkan pihak Jepang, namun namanya dirubah menjadi Perikatan Oemat Islam (POI) dan H. Abdul Halim menjadi ketuanya. Kemudian H. Abdul Halim diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada Mei 1945, dan pada tanggal 11 Juli 1945 beliau diangkat menjadi anggota Panitia Pembelaan Tanah Air yang  diketuai Abikoesno Tjokrosoejoso.

Pasca Kemerdekaan

Pada pasca kemerdekaan peran  H. Abdul Halim tidak berhenti, terbukti beliau di angkat menjadi sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah (PB KNID) Cirebon. Demikian juga saat Belanda melancarkan Agresi Militer II yang  dimulai 19 Desember 1948, H. Abdul Halim aktif mempertahankan kemerdekaan, bahkan beliau ikut bergerilya dan memimpin anak buahnya menghadang pergerakan militer belanda di keresidenan Cirebon.

Sehingga pada saat itu Residen Hamdani  mengangkatnya menjadi “Bupati Masyarakat” Majalengka yang bertugas sebagai penghubung antara Bupati Mr. Makmun dengan seluruh lapisan masyarakat Majalengka. H. Abdul Halim pun pernah duduk sebagai anggota Dewan Rakyat Daerah Jawa Barat sekitar periode 1950-an dan kemudian menjadi Anggota Kontituante.

Pada tanggal 5 April 1952, mendirikan dan menjadi ketua, organisasi besar yaitu Persatuan Umat Islam yang merupak fusi 2 organisasi, Perikatan Oemat Islam (POI) yang beliau pimpin dengan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII) yang didirikan oleh sahabatnya, KH. Ahmad Sanusi di Sukabumi.

Menjelang Akhir Hayat 

Di Usia 74 tahun, K.H. Abdul Halim, yang merupakan seorang Ulama besar tanah Pasundan ini menghadap Ilahi tepatnya pada tanggal 7 Mei 1962 dan dikebumikan di Majalengka.

Dalam sebuah keterangan mengungkapkan bahwa KH. Abdul Halim mewakafkan harta bendanya untuk madrasah dan institusi pendidikan. Bahkan rumah  pribadinya pun diberikan untuk PUI.  Atas jasa-jasanya, Abdul Halim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI. Hal ini berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor: 041/TK/Tahun 2008 tanggal 6 November 2008. Namanya juga diabadikan menjadi nama jalan protokol di Majalengka.

Karya Serta Peninggalan Abdul Halim

Mengenai pemikiran dan karyanya; Abdul Halim adalah ulama yang dapat dikatakan sebagai seorang penulis yang produktif. Banyak tulisan-tulisannya yang sempat diterbitkan. Tulisan-tulisan tersebut dipublikasikan di kalangan anggota Persyarikatan Ulama dalam bentuk brosur dan buku kecil. Tetapi, sebagian besar tulisannya sudah terbakar sewaktu agresi Belanda ke dua.

Di antara karyanya adalah;

  1.  Risalah Petunjuk bagi Sekalian Manusia
  2.  Ekonomi dan Koperasi dalam Islam
  3. . Ketetapan Pengajaran di Sekolah Ibtidaiyah Persyarikatan Ulama (sebagai Ketua Tim Penyusunan).
  4.  Da’watul Amal
  5.  Tarikh Islam
  6.  Neraca Hidup
  7.  Risalah
  8.  Ijtimaiyah Wailajuha
  9.  Kitab Tafsir Tabarok
  10.  Kitab 262 Hadits Indonesia
  11.  Babul Rizqi, dll.

Dari nama-nama kitab karangan Abdul Halim ini, yang masih tersisa tinggal 3 yaitu
1. Kitab Petunjuk bagi Sekalian Manusia
2. Ekonomi dan Koperasi dalam Islam
3. Ketetapan Pengajaran di Sekolah Ibtidaiyah Persyarikatan Ulama (sebagai Ketua Tim Penyusunan).

Pemikiran dan Konsep Abdul Halim

Selain itu, tulisan-tulisan Abdul Halim juga dimuat dalam beberapa majalah, seperti Suara Persyarikatan Ulama, As-Syuro, al-Kasyaaf dan Pengetahuan Islam. Abdul Halim juga menulis di Suara Muslimin Indonesia, Suara MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan di situ, ia menjadi pengisi artikel Ruangan Hadits. Ia juga menulis dalam lembaran-lembaran lain yang beredar dalam bentuk tercetak atau stensil, terutama untuk kalangan organisasi Persyarikatan Ulama.

Di dalam tulisan-tulisan tersebut, dapat dilihat pemikiran Abdul Halim tentang gagasan dan cita-citanya. Meski pun uraiannya dihubungkan dengan masalah keagamaan, tetapi pokok-pokok pikirannya dapat dipahami dari interpretasi yang dikemukakannya.

Pada garis besarnya, pokok-pokok pikiran Abdul Halim bersumber dari penafsirannya tentang konsepp al-Salam. Karena menurut pemahamannya, agama Islam memuat ajaran-ajaran yang bertujuan untuk membimbing manusia agar mereka dapat hidup selamat di dunia, dan memperoleh kesejahteraan hidup di akhirat. Kedua macam keselamatan hidup ini disebut al-Salam.

Berdasarkan pengertian ini, Abdul Halim melihat, bahwa kesejahteraan hidup di akhirat erat kaitanhnya dengan keselamatan hidup di dunia, karena untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera di akhirat, terlebih dahulu manusia mesti hidup selamat di dunia, yaitu hidup yang sejalan dengan tuntutan agama (Abdul Halim: 1938). Makanya, menurut Abdul Halim antara ke dua macam kehidupan tersebut, terhadap hubungan kausalitas (timbal-balik).

Selanjutnya, pemikiran-pemikiran ini, membawa Abdul Halim kepada 3 kesimpulan, yang kemudian diterapkan dalam kehidupannya. Baik mengenai konsep keagamaan, pendidikan, dan kesejahteraan.
1. Konsep al-Salam
2. Konsep Santi Asromo
3. Konsep Santri Lucu (santri yang terampil)