Dr. KH. Haedar Nashir,  Lahir di Desa Ciheulang, daerah Ciparay, Bandung Selatan, sebuah desa yang dimasa DI/TII pimpinan Kartosuwiryo menjadi perebutan pengaruh antara DI/TII dan TNI. Lahir dari pasangan Haji Ajengan Bahrudin dan Hajah Endah binti Tahim. Haedar Nashir adalah anak ragil dari 12 bersaudara, wajar bila Haedar kecil menjadi anak yang disayang orang tuanya.

Berkaitan dengan didikan keislaman, ayahnya Haji Ajengan Bahrudin menerapkan disiplin yang ketat. Guyuran air akan menimpanya bila tidak segera bangun untuk sholat subuh. Begitu juga sambitan selendang haji akan melecutnya saat ia salah membaca Al-Quran.

Pendidikan Islam yang pertama berasal dari ayahnya. Selain itu didikan Pondok Pesantren Cintawana,Tasikmalaya Jawa Barat juga juga menjadi modal dalam memahami Islam di kemudian hari. Didikan Agama dari sang ayah dan belajar di pesantren menjadikan Haedar Nashir akrab dengan dunia santri sejak kecil.

Pendidikan

Haedar Nashir adalah dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammdiyah Yogyakarta. Ia lahir di Bandung, 25 Februari 1958. Masa kecil haedar Nashir di habiskan di Bandung. Setelah menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Ciparay, Bandung, Haedar kemudian memenpuh pendidikan di Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, Jawa barat.

Setelah mesantren di Cintawana Tasikmalaya,Haedar kembali ke Bandung dan melanjutkan Sekolahnya di SMAN 10 Bandung,Lulus dari SMAN 10 Bandung,Haedar Nashir melanjutkan sekolah di Yogyakarta tepatnya di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa Yogyakarta (STPMD).

Gelar Sarjana pun diraih oleh Haedar dari STPMD.kemuadian Haedar melanjutkan kuliah jenjang S2 dan S3 di Universitas Gadjah Mada (UGM),gelar Magister dan Doctor bidang Sosiologi pun di raih oleh Haedar Nashir.

Cinta Studi dan Berorganisasi 

Bakat organisasi Haedar Nashir sudah terasah sejak di SMA. Ia Ketua Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PC IPM) di Padasuka Bandung, ia menjadi ketua saat IPM baru dirintis di kecamatan tersebut. Sebagai ketua IPM itulah ia terbiasa mencari dana kesana-kemari untuk acara perkaderan dan lainnya.

Ia selalu mengingat saat ia menjadi ketua IPM dan perjuangan mencari dana untuk menyelenggarakan kegiatan IPM disana.  Niat untuk belajar di Yogyakarta akhirnya kesampaian, Haedar Nashir Muda diperbolehkan untuk kuliah di Jogja. Putaran nasib memang sudah ditentukan Allah SWT.

Ia Sejak awal kuliah bercita-cita ingin menjadi lurah atau camat. Makanya sesampai di jogja Ia mengambil Sarjana Muda (BA) di Akademi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta dan Strata 1 (S1) di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “STPMD” Yogyakarta. Selama kuliah ia mendapat beasiswa Supersemar dan lulus sebagai sarjanan terbaik. Rupanya dorongan menjadi wartawan dan penulis memupus cita-citanya menjadi lurah dan camat di kampung kelahirannya.

Minat Haedar Nashir muda pada studi sosial dan keagamaan yang mengantarkannya untuk Studi Sosiologi di Pascasarjana UGM (S2,1998) dengan tesisnya berjudul Perilaku Elite Politik Muhammadiyah di Pekajangan dan Studi Sosisiologi di Program Doktor di UGM (S3,2007) dengan Disertasinya Islam Syariat:Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia.

Selain itu Haedar Nashir menulis lebih dari 10 buku yang berisi pemikirannya tentang Muhammadiyah. Hajriyanto Y Tohati, mantan Wakil Ketua MPR RI menujuluki Haedar Nashir sebagai Ensilopedi berjalan Muhammadiyah.

Karir Haedar Nashir tidak jauh dari dunia penulisan. Mulai dari penulis di koran lokal dan nasional, Peneliti pada LP3 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Wartawan hingga Pemred Majalah Suara Muhammadiyah dan sejak tahun 2000 menulis rutin di Republika.

Sebagai pendidik menjadi Dosen di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga (1993-1998), dan Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sampai sekarang. Setelah menjadi Doktor Haedar Nashir juga mengajar Pemikiran Islam dan Politik Islam pada Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga dan sesekali menjadi pembimbing disertasi di Pascasarjana UGM.

IPM dan Muhammadiyah Pilihan Gerakannya

Tanah Jogja menjadikan Haedar Nashir kerasan menetap. Selepas dari IPM di Bandung karir organisasinya di Jogja dimulai dari Pimpinan Wilayah IPM DIY. Sebagai aktivis organisasi Haedar Nashir punya prinsip sendiri.

Ia lebih suka menuangkan kritik terhadap keadaan dengan tulisan dan bukan demo dijalanan. Semasa mahasiswa di tahun 80an Haedar Nashir sudah sudah tertarik pada isu-isu pembangunan masyarakat desa.

Tahun 1979-1985 ia masuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Dhworowati Cultural Institute, pengalaman di LSM inilah yang menjadikan pemikiran keislamannya dikemudian hari cenderung kritis pada masalah pembangunan dan kondisi Masyarakat Islam.

Muhammadiyah adalah tempat berlabuhnya Haedar Nashir dan IPM adalah jejak awal karir organisasinya, mulai dari IPM Cabang sampai Pimpinan Pusat IPM. Haedar Nashir dikenal sebagai tokoh perkaderan dan salah satu pencetus Sistem Perkaderan IPM (SP IPM) sistem perkaderan berjenjang di IPM yang dipakai sampai hari ini.

Ia juga salah satu anggota Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Tidak heran pada tahun 1990-1995 dan 1995-2000 Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mempercayakan Badan Pendidikan Kader dan Pembinaan AMM PP Muhammadiyah kepadanya. Tahun 2000-2005 di beri amanah sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah mendampingi Buya Syafii Maarif.

Pada periode 2005-2010 dan 2010-2015 menjadi Ketua PP Muhammadiyah bersama Pak Dien Syamsuddin. Ditangan Haedar Nashir inilah manajemen keorganisasian Muhammadiyah ditata dengan baik.

Pasutri menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah dan PP Aisyiyah

Di Muhammadiyah jugalah Haedar Nashir menemukan tambatan hatinya. Dalam kesibukannya mengurus organisasi romantisme kehidupan tidak ditinggalkan. Sebagai Ketua I PP IPM ia tidak bisa ditipu oleh pesona Ketua III PP IPM bernama Noordjannah Djohantini (Dra Hj Noordjannah Djohantini MM).

Seringnya bertemu, berbagi ide baik dalam acara formal ataupu informal menjadikan keduanya saling tertarik. Pada 10 September 1987 Haedar Nashir menikahi Noorjanah Djohantini yang berasal dari Moyudan, Sleman. Dari pernikahan ini lahir Hilma Nadhifa dan Nuha Aulia Rahma. ( Haedar Nashir dalam tulisannya juga menggunakan nama pena Abu Nuha,artinya Ayahnya Nuha)

Haedar Nashir dan Noordjannah Djohantini walaupun sama-sama sibuk di Muhammadiyah tetap menjadikan urusan pendidikan anak sebagai tugas penting orang tua dan saling pengertian antara orang tua dan anak.

Haedar Nashir selalu menekankan kepada anak-anaknya bahwa dalam hidup ini orang butuh kehormatan, tidak punya apa-apa tidak masalah asal memiliki kehormatan diri. Pendidikan agama juga ditekankan kepada anak-anaknya dengan dialog antara orang tua dan anak sehingga kesadaran anak berkaitan dengan urusan keagamaan didasarkan atas proses saling memahami.

Sejarah berulang dengan munculnya ketua Muhammadiyah dan Aisyiyah yang Suami Istri. Satu abad yang lalu sosok Kiai Dahlan dan Siti Walidah/Nyai Ahmad Dahlan juga sama-sama memimpin Muhammadiyah. Kiai Dahlan menjadi ketua Muhammadiyah dan Nyai Ahmad Dahlan menjadi ketua Sopo Tresno yang akhirnya berubah menjadi Aisyiyah.

Pada abad kedua Muhammadiyah ini Ketua Muhammadiyah yang suami istri berulang. Haedar Nashir menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2015-2020 dan Noordjannah Djohantini menjadi Ketua Umum PP Aisyiyah Periode 2015-2020.

Bukan dengan proses karbitan pasangan ini bisa memimpin Muhammadiyah dan Aisyiyah. Noorjannah Djohantini menjadi kader Muhammadiyah sejak di PP IPM, Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah dan Ketua Umum PP Aisyiyah Periode 2010-2015 dan dilanjutkan periode lima tahun yang akan datang.

Haedar Nashir ingin membawa Persyarikatan yang didirikan oleh Kiai Dahlan ini sebagai gerakan Islam Modern yang memiliki pilar moderat,kultural dan menawarkan Islam yang mencerahkan dan berkemajuan.

Istri dan Keluarga Haedar Nashir

Istri Beliau bernama Dra. Hj. Siti Noordjanah Djohantini, M.M., M.Si. yang juga merupakan Dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah.

Dari hasil pernikahannya tersebut, mereka memiliki seorang anak perempuan, yaitu dr. Hilma Nadhifa Mujahidah yang merupakan dokter lulusan FK UMY dan seorang anak laki-laki, yaitu dr. Nuha Aulia Rahman yang juga seorang dokter lulusan  FK UGM.

Karya Tulis Haedar Nasir

  1. Buku Budaya Politik dan Kekuasaan  (1997)
  2. Buku Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern (1997, 1999)
  3. Buku Pragmatisme Politik Kaum Elit (1999)
  4. Buku Perilaku Politik Elit Muhammadiyah (2000)
  5. Buku Dinamika Politik Muhammadiyah (2001)
  6. Buku Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah (2001)
  7. Buku Ideologi Gerakan Muhammadiyah (2002)
  8. Buku Islam dan Perilaku Pemeluknya (2002)
  9. Buku Meneguhkan Ideologi Gerakan Muhammadiyah (2006)
  10. Buku Manifestasi Gerakan Tarbiyah (2006)
  11. Buku Gerakan Islam Syariat: Reproduksi Salafiah Ideologis di Indonesia (2007).
  12. Buku Kristalisasi Ideologi dan Komitmen Bermuhammadiyah (2009)
  13. Buku Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (2010)
  14. Buku Muhammadiyah Abad Kedua (2011)
  15. Buku Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Kebudayaan (2012)
  16. Buku Ibrah Kehidupan: Sosiologi Makna Untuk Pencerahan Hidup (2013)
  17. Buku Memahami Ideologi Muhammadiyah (2014)
  18. Buku Islam Syariat: Reproduksi Salafiah Ideologis di Indonesia, Edisi baru (2013)
  19. Buku Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah (Juli, 2015)
  20. Buku Gerakan Islam Pencerahan (Juli, 2015)
  21. Muhammadiyah A Reform Movement, 2015, UMS.
  22. Understanding The Ideology Of  Muhammadiyah, 2015, UMS.

Di atas adalah Biografi Haedar Nashir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015 – 2020 yang sebelumnya kursi tersebut di jabat oleh KH.Din Syamsudin.