“ Syekh Ahmad Surkati tidak banyak menulis, dia tidak mempunyai banyak publikasi, dan dia bukan pembual, yang jika berbicara terdengar bergema di setiap pertemuan dan perkumpulan. Sebaliknya dia memilih bekerja dalam kesunyian, kedamaian dan ketentraman, yang cenderung menciptakan manusia memiliki empati, bukan buku yang diam … Sehingga kita tidak memperkenalkannya dari publikasi dan buku atau melalui ucapannya. Kita hanya dapat mengarahkan Anda kepada para siswa yang dididik olehnya.”

Ustad Umar Hubeis (Murid Syekh Surkati) dimuat dalam majalah Al-Misbah, Februari 1929.

Syekh Ahmad Surkati adalah tokoh utama berdirinya Jam’iyat al-Islah wa Al-Irsyad al- Arabiyah (kemudian berubah menjadi Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah), atau disingkat dengan nama Al-Irsyad. Banyak ahli sejarah mengakui perannya yang besar dalam pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia, namun sayang namanya tak banyak disebut dalam wacana sejarah pergulatan pemikiran Islam di Indonesia.

Masa Kecil dan Pendidikan Syekh Ahmad Surkati

Sebagaimana Ahmad Hassan, Ahmad Surkati juga dilahirkan di negri asing, tetapi hidup berjuang, mensyiarkan islam, hingga wafat dan dimakamkan di bumi Indonesia. Ahmad Surkati dilahirkan di benua Afrika pada tahun 1292 H bertepatan tahun 1875 M, di desa Udfu, kota Arku, Propinsi Dunggala, salah satu daerah bagian Negara Sudan. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad Surkati Al-Khazraji al-Anshari. Beliau tergolong anak yang cerdas pada masa kecilnya dibandingkan teman – temannya.

Pendidikan ilmu – ilmu keislamannya diterimanya pertama kali dari ayahnya sendiri yaitu Syaikh Muhammad Surkati yang memang termasuk orang yang alim di tempat tinggalnya. Belum sampai usia baligh Ahmad Surkati sudah banyak sekali menguasi ilmu – ilmu keislaman. Seperti, tafsir, hadits, tauhid, fiqih dan lain-lain. Beliau masih keturunan dari sahabat Nabi jabir bin Abdillah Al Anshari, salah seorang sahabat Nabi yang cukup terkenal dalam meriwayatkan hadits.

Menimba Ilmu di Makkah dan Madinah

Kemudian sejak kecil Ahmad Surkati memiliki cita – cita untuk bisa sekolah di Universitas cairo mesir, namun ayahnya meninggal dunia sebelum ia berhasil meneruskan pendidikannya di Mesir. Akan tetapi Ahmad Surkati tidak mau surut langkah, meski tidak bisa ke negri mesir.

Sejak ayahnya meninggal dunia ia pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus berusaha menyauk ilmu di pusat islam tersebut. Khususnya di Makkah dan Madinah, Ahmad Surkati banyak belajar ilmu – ilmu keislaman kepada ulama – ulama terkanal.

Kemudian setelah belajar di Madinah selama 5 tahun, Ahmad Surkati kembali ke Makkah dan menetap di sana selama 11 tahun. Beliau memperdalam ilmu – ilmunya kepada para ulama di Makkah. Beliau juga banyak berkenalan dengan buku – buku karya pembaharu lainnya seperti Syaikh Muhammad ‘Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha.

Beliau bukanlah murid langsung dari keduanya akan tetapi beliau mempunyai pendapat yang sama dengan tokoh – tokoh pembaharu. Selain itu juga Ahmad Surkati membaca dan memperdalam buku – buku karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Ibnul Qayyim Al Jauziyah dan Ibnu Taimiyyah. Sehingga karya – karya mereka banyak membentuk jiwa dan pandangan Ahmad Surkati, di samping dengan apa yang beliau dapat dari guru – gurunya.

Dalam Riwayat Hidup as-Surkati diungkapkan bahwa selama di Mekkah Surkati mempelajari ajaran Abduh dari korespondensi dengan para pelajar dan pengajar di Al-Azhar, Kairo. Aktivitas ini membuat Surkati dikenal di kalangan ulama Al-Azhar. Hingga, saat datang utusan dari Jamiat Khair untuk mencari guru, ulama Al-Azhar merekomendasikan nama Ahmad Surkati.

Ahmad Surkati dan Batavia

yekh Ahmad Surkati mendarat di Batavia pada Rabiul Awwal 1329 H atau Maret 1911 bersama beberapa kawan dekatnya yang mendampinginya sebagai guru. Beliau tak butuh waktu lama menjadikan Jamiat Khair sebagai sekolah Islam berkualitas dan favorit. Namun, konservatisme di kalangan mayoritas petingginya akhirnya membuat hubungan mereka retak, terutama setelah kasus fatwa kafaah di Solo.

Akhirnya, Surkati pun hengkang. Lalu, bersama sahabat-sahabatnya di Batavia mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada 15 Syawwal 1332 H atau 6 September 1914. Bersamaan dengan itu dibentuk pula Jam’iyyah Al-Islah wal-Irsyad al-‘Arabiyah, yang kemudian berganti menjadi Jam’iyyah Al-Islah wal-Irsyad al-Islamiyyah, sebagai badan hukum yang memayungi Madrasah Al-Irsyad.

Penyebar Reformisme (Pembaharuan) Islam

Ahmad Surkati lebih mudah mengembangkan pemahaman reformisme Islam melalui Al-Irsyad. Maka, segera madrasah-madrasah Al-Irsyad meroket namanya di seluruh Jawa, bahkan sampai Sumatera. Sebagai pengusung faham reformisme Islam, Al-Irsyad pun mengaplikasikan pembaharuan Al-Afghani dan Abduh untuk sekolah-sekolah Islam, yaitu dengan memasukkan pelajaran-pelajaran umum bagi seluruh siswanya, termasuk matematika, biologi, bahasa Inggris dan lain-lainnya.

Guru utama kaum pembaharu Islam, Jamaluddin al-Afghani (1838-1897 M), menjelaskan dengan baik keadaan di masanya: “Saat ini mereka (ulama) membagi ilmu pengetahuan menjadi dua bagian. Yang satu mereka sebut ‘ilmu pengetahuan Islam’, dan satunya lagi ‘ilmu pengetahuan Eropa (non-Islam)’. Mereka pun melarang Muslim untuk belajar ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat. Ilmu-ilmu alam tak ada dalam kurikulum lembaga-lembaga pendidikan Islam.” Lalu dengan tegas Al-Afghani menyatakan, “Sungguh, mereka yang menganggap diri telah menyelamatkan agama Islam ini dengan melarang mempelajari beberapa ilmu pengetahuan, sejatinya adalah musuh dari agama ini.”

Saat menjadi mufti di Mesir pada 1899-1905, Muhammad Abduh (1849-1905 M) menerapkan ide-ide pembaharuan Al-Afghani itu di Mesir. Ia mengubah kurikulum pendidikan secara total, dengan memasukkan ilmu-ilmu umum di sekolah-sekolah Islam dan memasukkan ilmu-ilmu keislaman di sekolah-sekolah umum. Sebelumnya, sekolah-sekolah agama hanya mengajarkan ilmu-ilmu Al-Qur’an, hadits, fikih, akhlak dan sejenisnya, sedangkan sekolah-sekolah umum sama sekali tak mengajarkan pelajaran agama dalam kurikulumnya.

Sebagai agen pembaharuan Islam, Ahmad Surkati juga menerapkan hal yang sama di Indonesia. Ia tidak mau membedakan dan mengelompokkan ilmu pengetahuan ke dalam dikotomi ilmu agama dan ilmu dunia. Ia sadar bahwa semua ilmu adalah dari Allah.

Wafatnya Syekh Ahmad Surkati

Syaikh Ahmad Surkati Al-Anshari wafat di kediamannya, Jalan KH Hasyim Asy’ari No. 25 Jakarta sekarang ini, yang pernah dipergunakan sebagai kantor Al-Irsyad tingkat nasional, pada Kamis 16 September 1943 pukul 09.00 WIB. Ia dimakamkan di pemakaman Karet Tanah Abang Jakarta, yang sekarang tepatnya sudah menjadi lapangan parker Perguruan Said Na’um. Ketika jenazah diusung menuju tempat pemakaman, ikut mengantar berjalan kaki Bung Karno serta para pemimpin Islam lainnya.

Di acara pemakaman itu, Wondoamiseno, tokoh Syarekat Islam dan ketua MIAI berbicara atas nama umat Islam Indonesia, melepas kepergian seorang ulama besar, tokoh pembaharuan Islam Indonesia. Bung Karno sebetulnya ingin ikut memberi sambutan, tapi tidak mendapat kesempatan.

Syekh Ahmad Surkati Menurut Beberapa Tokoh

Sejarawan Deliar Noer menyatakan Ahmad Surkati “memainkan peran penting” sebagai mufti. Sedang sejarawan Belanda G.F. Pijper menyebut dia “seorang pembaharu Islam di Indonesia.” Pijper juga menyebut Al-Irsyad sebagai gerakan pembaharuan yang punya kesamaan dengan gerakan reformasi di Mesir, sebagaimana dilakukan Muhammad Abduh dan Rashid Ridha lewat Jam’iyat al-Islah wal Irsyad (Perhimpunan bagi Reformasi dan Pimpinan).

Sejarawan Abubakar Aceh menyebut Syekh Ahmad Surkati sebagai pelopor gerakan salaf di Jawa.

Howard M. Federspiel menyebut Syekh Ahmad Surkati sebagai “penasihat awal pemikiran Islam fundamental di Indonesia”. Dan pendiri Persatuan Islam (Persis), Haji Zamzam dan Muhammad Yunus, oleh Federspiel disebut sebagi sahabat karib Syekh Ahmad Surkati.

Pengakuan terhadap ketokohan Syekh Ahmad Surkati juga datang dari seorang tokoh Persis, A. Hassan. Menurut A. Hassan, ia bersama pendiri Muhammadiyah H. Ahamd Dahlan dan pendiri Persis Haji Zamzam juga murid-murid Ahmad Surkati. Ia berkata, “Mereka itu tidak menerima pelajaran dengan teratur, namun Al-Ustadz Ahmad Surkati inilah yang membuka pikirannya sehingga berani membuang prinsip-prinsip yang lama, dan menjadi pemimpin-pemimpin organisasi yang bergerak berdasarkan Al-Kitab dan Al-Sunnah.”

Pujian terhadap Ahmad Surkati juga datang dari ayah Buya Hamka, H. Abdul Karim Amrullah. Kisahnya, di tahun 1944 Hamka bertanya kepada ayahnya tentang seseorang yang dipandang sebagai ulama besar di Jawa. Ayahnya menjawab, “Hanya Syekh Ahmad Surkati.” Hamka bertanya kembali, “Tentang apanya?”

“Dialah yang teguh pendirian. Walaupun kedua belah matanya telah buta, ia masih tetap mempertahankan agama dan menyatakannya dengan terus terang, terutama terhadap pemerintah Jepang. Ilmunya amat dalam, fahamnya amat luas, dan hatinya sangat tawadhu.”

Dalam bukunya yang berjudul Ayahku: Riwayat Hidup Dr. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, Hamka juga menulis hubungan khusus antara ayahnya dengan Syekh Ahmad Surkati. “Setelah pindah ke tanah Jawa, sangatlah rapat hubungannya dengan almarhum Syekh Ahmad Surkati, pendiri Al-Irsyad yang mesyhur itu. Pertemuan beliau yang pertama dengan Syekh itu di Pekalongan pada 1925. Ketika itu Syekh masih sehat dan matanya belum rusak…”

Karya Tulis Syekh Ahmad Surkati:

Selain mengajar di sekolah formal, di Indonesia Syekh Ahmad Surkati juga rajin membuat karya tulis. Di antaranya yang penting adalah:

1. Surat al-Jawab (1915)

Risalah ini merupakan jawaban Ahmad Surkati terhadap permintaan pemimpin surat kabar Suluh India, HOS Tjokroaminoto, sehubungan dengan makin luasnya pembicaraan tentang kafa’ah.

2. Risalah Tawjih al-Qur’an ila Adab Al-Qur’an (1917); yang lebih menajamkan isi yang terkandung dalam Surat al-Jawab. Intinya antara lain: kedekatan seseorang pada Muhammad sebagai Rasulullah bukan didasarkan atas keturunan, namun atas dasar ketekunan dan kesungguhan dalam mengikuti jejak dan dakwahnya.

3. Adz-Dzakhirah al-Islamiyyah (1923)

Ini majalah bulanan yang dikelola Syekh Ahmad Surkati bersama saudaranya, Muhammad Nur al-Anshari. Melalui majalah ini Syekh Ahmad Surkati membongkar praktek-praktek beragama yang keliru, menulis tentang Islam yang cocok untuk segala bangsa dan di segala waktu, dan persatuan ummat.

4. Al-Masa’il al-Thalats (1925)

Yang berisi pandangan Syekh Ahmad tentang ijtihad dan taqlid, sunnah dan bid’ah serta tentang ziarah kubur dan tawassul.

5. Al-Wasiyyat al-Amiriyyah (1918)

6. Zedeleer Uit Den Qor’an (1932)

7. Al-Khawatir al-Hisan (1941)

Pustaka

Deliar Noer, The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942, Oxpord University Press, Singapore, 1973, hal. 59 dan 63.

G.F. Pijper, Beberapa Studi tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, terj. Oleh Prof. Dr. Tudjimah dan Drs. Yessy Dagusdin, Universitas Indonesia, Jakarta, 1984, hal. 120 dan 114.

Abubakar Aceh, Salaf, Permata, Jakarta, 1970, hal. 27

Howard M. Federspiel, Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia, Cornell University, Ithaca, 1970, hal. 12

Umar Sulaiman Naji, Tarjamat Al-Hayat al-Ustadz Ahmad al-Surkati al-Ansari al-Sudani, Manuskrip, hal.29.