Muda, tampan, pintar, dan belum berbahaya. Kurang apalagi Agus Salim pada 1903 itu? Usianya saat itu 19-an tahun. Untuk ukuran pribumi di zaman itu, tak sulit baginya menarik hati para gadis dengan modal tampangnya. Ditambah lagi, anak jaksa ini lulusan terbaik SMA elite kolonial Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III (Kawedrie) Batavia—yang sebagian sisa gedungnya masih ada di areal Perpustakaan Nasional Salemba. Kala itu, ia belum ikutan organisasi berbahaya bagi pemerintah kolonial.

Masa depan Salim cerah. Lulusan SMA pada abad 20 itu sangat langka. Jika mau jadi pegawai negeri pun terbuka lebar baginya. Sebagai lulusan terbaik, ia tidak akan sulit kuliah di universitas. Apalagi Raden Ajeng Kartini menghibahkan beasiswa kepadanya. Namun, Salim nyatanya tidak kuliah meski sudah mencoba mengajukan diri untuk kuliah kedokteran dengan beasiswa. Rupanya, tak ada bea siswa untuk inlander.

Salim tak mau jadi pemalas loyo karena hilang mimpi. Ia pun bekerja sebagai penerjemah dan pembantu kantor notaris. Pada 1905 sampailah kepadanya tawaran bekerja di Konsulat Hindia Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Salim menerima dan mulai bekerja sejak 1906.

Menurut Shaleh Putuhena dalam Historiografi Haji Indonesia (2007), Salim menggantikan posisi Raden Abu Bakar sebagai Leerling Dragoman (penerjemah ahli) sesuai surat keputusan Ratu Wilhelmina bertanggal 27 Agustus 1906. Gajinya dalam setahun ketika magang sebesar 1.080 gulden, ditambah tunjangan perabot 500 gulden, dan hak pensiunnya 720 gulden.

Dalam waktu enam bulan ia jadi sekretaris drogman dengan gaji 2.400 gulden setahun dan jatah pensiun 1.600 gulden. Jumlah itu sangat besar bagi Salim muda. Penempatan di Jeddah itu rupanya berkat saran dari ahli Islam Belanda bernama Snouck Hurgronje—yang mengetahui Salim sebagai lulusan terbaik SMA kolonial di Jakarta.

Salim bekerja di Jeddah dari 1906 hingga 1911. “Selama lima tahun di Saudi Arabia, saya lima kali naik haji, dan bertambah dalam sikap saya terhadap agama,” ujar Agus Salim seperti dikutip dalam 100 Tahun Haji Agus Salim (1996).

Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), Salim bertugas menangani urusan jemaah haji Indonesia dan akhirnya dekat dengan sepupu Minang yang sudah lama tinggal dan jadi ulama di Mekkah, yakni Syekh Ahmad Khatib.

Pada 1911, Salim kembali ke Hindia Belanda. Menurut Haji Agus Salim 1884-1954 (2004), ia sempat bekerja di Bureau voor Openbare Werken (BOW)—Jawatan Pekerjaan Umum—hingga tahun 1912. Salim menyempatkan diri pulang kampung ke Koto Gadang, Sumatera Barat. Di sana, sebagai orang bergaji besar, Salim menikahi Zainatun Nahar Almatsier—yang kemudian memberinya 10 anak.

Selama 1912 hingga 1915, Salim membuka sekolah dasar berbahasa Belanda, Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Pernah juga ia jadi redaktur bahasa Melayu dalam Commissie voor de Volkslectuur—yang belakangan jadi Balai Pustaka.

Meski keluar dari BOW, sebelum ikut Sarekat Islam, Salim masih dipercaya pemerintah kolonial; agaknya juga untuk urusan khusus, yakni mengurusi kaum pergerakan.

Harap diingat, kala itu “Indonesia” sebagai negara belum ada dan kesadaran nasional masih belum berkembang luas. Orang bumiputra yang setia dan mau jadi mata-mata untuk Belanda adalah hal lumrah. Dan apa yang mereka lakukan tak bisa disamakan sebagai pengkhianat.

Salim dituduh sebagai mata-mata polisi. Ketika tuduhan itu ramai, dalam artikel “Ben Ik Een Spion” di majalah berbahasa Belanda Het Lich nomor 4/th III tahun 1927, Salim berkata: “Bantuan saya yang diminta adalah sebuah penyelidikan yang berhubung tersiarnya desas-desus bahwa Cokroaminoto menjual SI kepada Jerman seharga 150.000 gulden. Dengan dana itu Cokroaminoto akan melancarkan pemberontakan besar di tanah Jawa, sedang senjata dan perlengkapan lain disediakan oleh Jerman.”

Menurut Ricklefs, Salim menghadiri rapat SI sebagai mata-mata polisi Belanda pada 1915. Isu ini hanya isapan jempol dan pemberontakan nyatanya tak pernah terjadi. Apa yang terjadi setelahnya kepada Salim, menurut Ricklefs, adalah “berbalik mendukung tujuan SI serta menjadikan komitmen Pan-Islam dan modernisme sebagai dasar yang tepat untuk menjalankan kegiatan politik.”

Salim pun menjadi kekuatan baru bagi SI. Semasa awal di SI, Salim pula yang menghalau orang-orang komunis muda macam Semaoen agar tidak berperan dominan. Orang-orang muda itu jadi lawan politik Agus Salim dalam pergerakan nasional melawan Belanda.

Setelah 1915, kehidupan Salim jauh dari keadaan nyaman: kurang uang belanja untuk hidup, pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Hal ini biasa bagi dia dan keluarganya.

“la pernah tinggal di rumah kontrakan di Tanah Tinggi yang jalannya berlumpur di musim hujan, atau menumpang di rumah seorang kawannya,” tulis Amrin Imran dalam Perintis Kemerdekaan: Perjuangan dan Pengorbanannya (1991). Padahal Sarekat Islam yang dipimpinnya termasuk partai besar di zaman kolonial.

Sebagai orang cerdas, Salim tahu bagaimana menikmati hidup. Termasuk bagaimana tinggal di hunian yang jelek dan bocor ketika hujan. Saat hujan, Salim bersama anak-anaknya menampung air hujan dalam baskom yang kemudian digunakan untuk main kapal-kapalan. Begitulah caranya menghibur sekaligus mendidik anak-anaknya dalam kesederhanaan.

Mohamad Roem dan Kasman Singodimedjo muda pernah mengunjungi bedeng kontrakan Salim sekitar 1920-1930-an. Pengalaman itu diceritakan Roem dalam tulisan di Prisma No 8, Agustus 1977, dengan judul, “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita.”

Bagi mereka, Salim adalah contoh pemimpin yang berani susah. Kasman, seperti diingat Roem, mengambil kesimpulan: “Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita. Seperti bunyi pepatah kuno Belanda: leiden is lijden—memimpin adalah menderita.”

Setelah Indonesia merdeka, Salim masih jadi pemimpin berpengaruh. Ia pernah tergabung dalam kabinet Sjahrir sebagai Menteri Muda Luar Negeri atas pengalamannya bekerja pada Konsulat Belanda di Jeddah.

Menurut Roem, Salim “sangat berjasa” dalam penggalangan dukungan negara-negara Arab terhadap kemerdekaan Indonesia. Kesamaan Indonesia dengan bangsa-bangsa Arab itu di antaranya memiliki penduduk beragama Islam, selain sama-sama sebagai bangsa timur yang harus saling bantu untuk bebas dari negara-negara barat setelah Perang Dunia II.

“Ia bertolak ke Timur Tengah sebagai Menteri Muda Luar Negeri akhir tahun 1946. Di Kairo, ia mendapat rintangan dari Duta Besar Belanda yang menyatakan usaha Haji Agus Salim melanggar perjanjian Linggarjati,” tulis Roem.

Namun, Mesir lebih memilih jadi sahabat Indonesia dan mendukung kemerdekaan Indonesia. Waktu kabinet Sjahrir jatuh dan digantikan Amir Sjarifuddin yang komunis sekaligus Kristen, Haji Agus Salim yang sepuh dan ampuh itu sepenuhnya dijadikan Menteri Luar Negeri. Padahal dulunya Salim adalah orang yang menyingkirkan komunis dari SI, tetapi ia bisa bekerjasama dengan komunis religius macam Amir.

“Haji Agus Salim banyak dihubungi dan mampu memberi pengertian tentang sikap dan keadaan di Indonesia,” tulis Roem.

Pendekatan diplomatik tak hanya dengan bangsa-bangsa Arab, tapi juga dengan negara besar yang suka mengambang macam Inggris. Meski secara politik bermusuhan dengan Belanda, Salim berhubungan baik dengan diplomat Belanda untuk mempermudah urusan demi stabilitas kedaulatan Indonesia. Meski Salim menentang kebijakan politik negara Belanda terhadap Indonesia, diplomat Belanda menghargai Salim.

Sebagai seorang yang menguasai banyak bahasa, Salim berhasil menjalankan komunikasi yang baik sebagai diplomat. Di mata Prof. Schermerhorn, Salim adalah “orang tua yang sangat pandai bicara … seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu bicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa.”

Dan di mata Schermerhorn, sosok Wak Haji yang berbahaya bagi Belanda ini selama hidupanya melarat.
(Sumber Petrik Matanasi/tirto.id-pet/fhr)